Batasan Masalah: Pengertian jamu dan Obat Herbal

Diposting pada

Sebelum bicara mengenai jamu kuat pria, ada baiknya pembicaraan diawali dengan pengertian jamu dan obat herbal terlebih dahulu.

Jamu dikenal sebagai bahan pengobatan secara turun temurun.

Apalagi bangsa indonesia terkenal memiliki tumbuh-tumbuhan yang beraneka macam yang akhirnya bisa dijadikan bahan untuk membuat jamu tradisional.

Dalam sebuah riset yang dikeluarkan oleh riset kesehatan dasar (riskesdas) tahun 2010

didapatkan fakta bahwa 49,53 % penduduk Indonesia menggunakan jamu baik untuk menjaga kesehatan maupun mengobati penyakit.

Tentu ini ini angka yang besar karena ini berarti hampir separoh penduduk Indonesia mempercayai dan menggunakan jamu sebagai bahan pengobatan.

Dari hasil tadi juga didapatkan data bahwa dari yang pernah mengkonsumsi jamu 95,6% merasakan manfaatnya minum jamu.

55,3% mengkonsumsi jamu dalam bentuk cairan sisanya mengkonsumsi dalam bentuk serbuk, rajangan, pil., kapsul atau tablet.

Jamu Indonesia juga masih mungkin dikembangkan sehingga bisa bersaing di pasar global.

Untuk masalah ini kita boleh dibilang kalah bila dibandingkan dengan  Malaysia.

Mereka telah melakukan penelitian secara serius tentang jamu kemudian mempublikasikan secara terbuka di jurnal intrenasional sehingga menjadi populer.

Contohnya adalah keberhasilan Malaysia mempopulerkan tongkat ali

Di Indonesia tongkat ali sebenarnya lebih dikenal dengan pasak bumi.

Demikian juga penelitian yang dilakukan di korea tentang minuman ginseng, yang menjadikan korea terkenal dengan negeri ginseng,.

Padahal sebenarnya ginseng yang ada di korea didatangkan dari kanada dan china.

Namun korealah yang telah melakukan penelitian tentang ginseng dan mempublikasikan di jurnal internasional.

Pengertian jamu & obat herbal terstandar

Tidak jarang di pasaran akan kita temukan produk dengan label “obat kuat” sedangkan disamping ada logo ranting dalam lingkaran kemudian ada tulisannya jamu.

Pasti kemudian ada pertanyaan yang terbesit ini masuk golongan jamu atau obat herbal sebenarnya?

Lalu apakah persamaan atau perbedaan jamu dan obat herbal?

Mengenai masalah ini, Balai pengawasan obat dan makanan (BPOM) telah memiliki peraturan tentang pengelompokan dan penandaan obat berbahan dasar alam.

Seperti yang tertera dalamkeputusankepala badan pengawas obat dan makanan (BPOM) nomor HK.00.05.4.2411, yang dimaksud dengan obat berbahan alam dikelompokkan menjadi jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka.

Berikut ini penjelasan mengenai ketiganya:

Jamu

Jamu adalah sediaan bahan alam yang masih berupa simplisia sederhana seperti irisan rimpang, daun atau akar kering.

Khasiat jamu baru terbukti secara empiris , artinya berdasarkan pengalaman banyak orang dan dipercaya secara turun temurun belum terbukti secara ilmiah.

Contohnya adalah masyarakat telahmenggunakan rimpang temulawak untuk mengatasi hepatitis selama ratusan tahun.

Pembuktian khasiatnya hanyalah berdasarkan pengalaman, belum ada penelitian yang telah membuktikan klaim ini.

Oleh karena produk dengan label jamu dilarang mencantumkan kata-kata berkhasiat untuk mengobati………namun biasanya menggunakan kata-kata secara tradisional digunakan untuk………

Produk yang menjadi kelompok jamu ditandai dengan logo ranting hijau dalam lingkaran kemudian ada tulisannya jamu.

Obat Herbal Terstandar (OHT)

Produk jamu bisa naik menjadi obat herbal terstandar bila bentuk sediaan berupa ekstrak dengan bahan dan proses pembuatan yang telah terstandarisasi.

Untuk menjadi obat herbal, jamu harus melewati penelitian yang mendalam mengenai khasiat melalui uji pra klinik dengan menggunakan hewan uji.

Tujuan penelitian adalah membuktikan bahwa produk herbal tersebut memang berkhasiat untuk penyembuhan atau pengobatan .
Produk dalam kelompok ini ditandai dengan logo jari jari daun 3 pasang terletak di dalam lingkaran, ada tulisan obat herbal terstandar.

Fitofarmaka

Fitofarmaka adalah tingkatan tertinggi herbal sebagai obat Untuk mencapai tingkatan ini herbal terstandar harus mengalami penelitian lagi dengan uji klinis pada manusia.

Bisa jadi uji praklinik pada hewan berhasil tapi pada manusia belum tentu sama hasilnya.

Barulah setelah lolos uji fitofarmaka produsen dapat mengklaim produknya sebagai obat.

Namun klaim tersebut harus sesuai dengan uji klinisnya, misalnya uji klinis sebagai antikanker, produsen dilarang mengklaim produknya sebagai anti kanker dan anti diabetes.

Produk dalam kelompok ini ditandai dengan logo berupa jari-jari daun (seperti membentuk bintang) terletak dalam lingkaran dan ada tulisan fitofarmaka.

Oke, Di Bab selanjutnya kita akan belajar: apa itu jamu kuat, siapa yang butuh?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *